R U N

Hai… Terlalu canggung rasanya untuk sekedar memulai basa-basi ini, memulai percakapan setelah mengakhiri segala kedekatan yang pernah terjalin. Terlalu singkat juga mungkin apa yang pernah dilalui, tapi jalan Tuhan yang menuntun segalanya, menjaga agar rasa tetap indah dengan cara tak bersama, tak seirama.

Terimakasih saja mungkin tak akan pernah cukup untuk membayar detik waktu yang telah kau peruntukan bagi ku, membunuh setiap kesedihan dengan kebersamaan, menghapus tetes demi tetes air mata, bahkan perlahan mengubahnya membentuk sudut simpul dibibir, senyum. Untuk telinga terbaik yang bersedia mendengar segala kisah pahitku, meski mungkin teriris akan setiap kalimatnya, untuk mata yang menatapku dengan seluruh kepercayaan bahwa aku kuat menghadapi segalanya, untuk bibir yang bersedia tersenyum sepanjang hari demi senyumanku, untuk lengan yang terulur dan menarikku dari keterpurukan, untuk jemari yang membantuku menghapus air mata, dan untuk kaki yang membawaku turut melangkah menuju cahaya, terimakasih. Tuhan menolongku melalui perantara yang teramat sempurna, bahkan jika aku tak mampu lagi bersyukur pun, rasa syukur itu tak akan pernah cukup untuk mewakili rasa terimakasihku.

Kebersamaan tak selamanya menjadi pertanda sebuah rasa, Tuhan memilihkan jalan ini untuk kita, untuk tak saling menyakiti suatu saat nanti. Ia tahu kita mampu menghentikan segalanya saat masih terasa indah, karena Tuhan ingin menjaga rasa yang ada untuk tak berubah menjadi derita. Bahkan Ia mencukupkan kita untuk hanya menjadi teman, teman (si sempurna yang tak akan pernah menuntut jalinan menjadi lebih dari ini).

Congrats, kau berhasil merawat mutiara (yang selalu kau sebut) itu menjadi lebih indah. Mungkin tak sepenuhnya berkilauan, tak sepenuhnya bercahaya kembali, kini mutiara itu hanya berpendar seadanya, tapi kau tahu? Ia kini begitu kuat dan memesona dengan segala luka yang pernah dilaluinya. Terimakasih untuk segalanya. Yang terbaik menantimu dibatas cahaya sana, tetap berjalan dengan baik pada jalurmu, berikan seluruh pelajaran hidupmu seperti ketika kau membaginya denganku.

Terakhir dalam tulisan ini, aku akan memberitahumu satu hal mengenai mengapa aku memilih kata “RUN”.
Run yang berarti lari/berlari. Dan ketika dibalik menjadi Nur yang berarti cahaya. Lalu apa maknanya?

Kau telah mampu membuat aku yakin untuk kembali berlari dari kegelapan menuju cahaya, setelah beribu luka yang aku dapat dalam kegelapan itu.
🙂

Dear Heart,

Sudah sembuhkah lukamu ?
Mungkin jika hatiku dapat menjawab, ia akan berkata lirih mengenai lukanya, menjawab dengan begitu lelahnya menghadapi segala kenyataan yang menghimpit hingga relung terdalam.
Lantas, jika sedalam itu lukamu apa kau akan sembuh ?
Mungkin jawabannya adalah tidak, ketika aku hanya terus mengandalkan hatiku untuk menjawabnya. Kabar baiknya, benakku selalu memapah hati ini untuk kuat, lebih dari apapun, bahkan ketika hati telah merasa bahwa ini diluar batasnya. Benakku akan menjawab segalanya, memasok begitu banyak kekuatan dan menyembuhkan hatiku perlahan.

Bukankah takkan ada luka yang tak dapat sembuh ? Bukankah tuhan menciptakan segala rasa sakit lengkap beserta penawarnya ? Tentu saja. Lantas untuk apa khawatir? Hati, kau akan lekas membaik, lukamu tak lama lagi akan segera mengering.
Bukankah kamu sudah terlatih untuk menghadapi luka seperti ini. Sudah terbiasa dibahagiakan, hingga lupa jika kesedihan mengikuti dibalik punggung, dan ketika terhantam sekaligus, jatuh terkulai ?
Jadi tak perlu lagi membiarkan mata menangis karena lukamu, menyiksa diri dan membebani pikiran. Sudah cukup kau saja yang tergores, dan biarkan benakku tetap berjalan sesuai akal sehatnya, kemudian biarkan akal sehat menuntunmu menyembuhkan luka itu. Meninggalkan bekas mungkin iya, tapi bukan untuk terus menerus dirasakan dan diingat sakitnya, cukup lihat sisa luka itu esok hari, menyadari diri kurang berhati-hati hingga mampu menyisakan luka. Tak ada habisnya jika terus meratap, dari mana akan dapat pelajaran jika tak pernah beranjak. Banyak hal yang harus dilihat dengan cukup jauh untuk dapat kita mengerti apa maknanya.

Lekas sembuh hati, banyak hal baru yang menanti walaupun entah untuk menyembuhkan luka masa lalu mu atau justru untuk melukaimu kembali. 🙂

Pemeriksaan Sistem Informasi (Audit IT)

Audit IT

Avanza Adittya's Blog

A. Pengertian Audit IT.
Audit teknologi informasi atau information systems (IS) audit adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dari infrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh. Audit teknologi informasi ini dapat berjalan bersama-sama dengan audit finansial dan audit internal, atau dengan kegiatan pengawasan dan evaluasi lain yang sejenis. Pada mulanya istilah ini dikenal dengan audit pemrosesan data elektronik, dan sekarang audit teknologi informasi secara umum merupakan proses pengumpulan dan evaluasi dari semua kegiatan sistem informasi dalam perusahaan itu. Istilah lain dari audit teknologi informasi adalah audit komputer yang banyak dipakai untuk menentukan apakah aset sistem informasi perusahaan itu telah bekerja secara efektif, dan integratif dalam mencapai target organisasinya.

B. Sejarah singkat Audit IT
Audit IT yang pada awalnya lebih dikenal sebagai EDP Audit (Electronic Data Processing) telah mengalami perkembangan yang pesat. Perkembangan Audit IT ini didorong oleh kemajuan teknologi dalam sistem keuangan, meningkatnya kebutuhan akan kontrol IT, dan pengaruh dari komputer itu sendiri…

Lihat pos aslinya 1.365 kata lagi

Project Charter

Nah ini dia, wkwk… ini masih kelanjutan tugas manajemen proyek, kalo yang sebelumnya kita buat itu “Proposal Proyek”, nah yang satu ini contoh Project Charter yang gak kalah penting dari proposal. Sumber atau panduannya masih sama dari buku milik Rudy Tantra.
Boleh dilihat 🙂
Download here Contoh Project Charter !!!!!!!

Semoga bermanfaat 🙂

Struktur Proposal Proyek

Saya share sedikit tugas mata kuliah Manajemen Proyek mengenai Proposal Proyek Perancangan Sistem Informasi Penjualan.

Proposal ini dibuat dengan referensi dari buku milik Rudy Tantra “Manajemen Proyek Sistem Informasi”.P_20160309_141902.jpg

Boleh dilihat… Semoga bermanfaat 🙂

Download disini Contoh Proposal Proyek 🙂 🙂 🙂

Sunset Bersama Rosie – Tere Liye

Novel yang luar biasa! 🙂

Rasa sayang seringkali disertai rasa ingin memiliki, ketika sudah memiliki pun hati manusia masih selalu meminta lebih –ingin hanya menjadi milik sendiri– dari yang pantas dikatakan wajar. Bahkan tak sedikitpun merasa sungkan pada Tuhan Sang Pemilik sesungguhnya. Mengapa harus selalu merasa ingin memiliki ketika bahkan pada saat yang sama yang kita inginkan adalah milik Tuhan. Dan pada saat itu pula hatinya memilih orang lain.

Tak pernah ada yang nyata ketika bersama adalah memiliki. Ketika mencintai harus bersama. Kemudian dengan bersama harus saling membahagiakan. Bahkan pada kenyataannya yang bersama pun tak merasa memiliki, yang bersama kadang tak selalu saling mencintai –yang satu mencintai, yang lainnya seadanya aja– kemudian dengan sangat menyakitkan ketika menyadari saat bersama tak saling membahagiakan atau tak merasa bahagia, bahkan akal sehat dengan ragu berpikir tak dapat memberi kebahagiaan.

Iya, semestinya menyadari hal senyata itu dapat dengan mudah dilakukan. Untuk apa ketika kita bersama justru hati enggan untuk sepenuhnya bahagia, akal juga tak seluruhnya mau meyakini keputusan untuk bersama, lalu akan sedemikian sulit apa lagi membelenggu hidup untuk terus menyesali ketakutan akan masa lalu atas keputusan yang telah dipilih? Bukankah itu sudah jauh tertinggal dibelakang sana, ya sangat jauh. Masa lalu dan segala hal yang tertinggal didalamnya memang tak akan mungkin dilupakan, tapi itu bukan suatu alasan untuk terus hidup didalamnya. Masa lalu memang tidak akan hilang, tapi bukankah memory pun akan hilang bersama kematian pembawanya.

Mencintai dan tak harus memiliki itu sebuah pengorbanan. Coba saja membesarkan hati dengan memikirkan bahwa kita dan yang kita inginkan adalah sama-sama milik Tuhan, jadi mengapa memaksa harus saling memiliki.

Mengenai pengorbanan, apakah memiliki harga juga batasan? Sedangkan jika harus dengan keinginan keras untuk terus memiliki bukankah itu sebuah harga yang harus dibayar untuk sebuah pengorbanan, dan batasnya adalah ketika berhenti memiliki. Maka pengorbanan tentu memiliki harga dan batasan bagi si egois yang menyimpan ‘memiliki’ pada peringkat satu dalam definisinya mengenai cinta. Lalu bagaimana dengan yang tak pernah memiliki, dan yang saling memliki namun tanpa cinta? Terkadang hal semudah tersandaung lalu terjatuh, kemudian berusaha bangun pun, menjadi serumit harus menggenggam dunia bagi si egois yang selalu berkutat dengan harga dan batasan itu sendiri. Karena berdamai dengan hati adalah hal termudah untuk menyederhanakan segala kerumitan duniawi ini. Cintai saja! Karena perihal memiliki atau tidak itu sungguh urusan Tuhan. Dan syukurilah ketika memiliki walaupun tanpa cinta, karena dengan bersyukur kita juga menyadari boleh jadi ketika yang dimiliki pergi kita akan kehilangan dan penuh dengan penyesalan untuk karena pernah tak menghargai kebersamaan yang pernah direngkuh bersama. Dan itu cinta, hanya keegoisan dan kenaifan yang ketika bersama membuat sombong dan melupakan bahwa sesungguhnya itu memang cinta.

Kita tak akan pernah tahu, apakah akan hadir kesempatan untuk mengulangi hal yang sama, meski dengan janji yang lebih baik dari sebelumnya sekalipun. Karena keputusan yang dipilih tak membawa kita pada kesempatan yang lebih indah, justru membuka kesempatan kita untuk terluka dan tak pernah lagi dapat merasakan ketulusan sebelumnya.

Pertanyaan tentang perasaan memang tak akan pernah terjawab, tak akan ada yang mampu menjawabnya, hanya Tuhan yang akan memerintahkan waktu untuk memperlihatkannya.

Mencintai bukan berarti harus memiliki –terdengar seperti omong kosong–, dan ketika memiliki pun tak selalu dapat mencintai selamanya. Hanya pelaku yang tulus yang akan memilih keputusan yang dapat membawanya pada kesempatan terbaik milik hidupnya.

sbr

Quality Time

‘Cause famz ma everything