Arsip Kategori: my scratch

Aku dan Cintaku

Tahukah? Sejak saat dimana aku membaca secarik kertas di meja kelasku, aku sudah memiliki rasa ini. Semakin hari ia tumbuh semakin rindang, lengkap dengan ranting-ranting pengertian, kejujuran, pun kesetiaan. Tak pelak juga tumbuh semakin kuat bersama segala tawa dan tangis yang setia menyiraminya. Sejak saat itu aku mencintaimu dengan hatiku, mencintaimu beserta segala kekuranganmu, dan mensyukuri setiap jengkal kelebihanmu.

Ingatkah? Aku selalu mencintaimu, bahkan disaat semua orang berjalan pergi memunggungimu. Bersamamu meski aku memiliki berjuta alasan untuk pergi, tapi yang kucari bukan jutaan alasan itu, aku hanya membutuhkan satu alasan untuk tetap bertahan, atau mungkin tanpa alasan sekalipun. Untuk apa aku memilih pergi, jika yang membuatku bahagia tengah menatap mataku. Betapapun besarnya usahaku untuk membuang pandang pada hal lain, mata ini akan selalu kembali padamu.

Mengertikah? Aku mencintaimu dengan atau tanpa alasan, dengan atau tanpa balasan. Mencintaimu dengan atau tanpa bersama, itu rasanya tetap cinta. Setiap luka ataupun tawa, bersamamu itu rasanya tetap cinta. Sekalipun tanpamu, itu tetap cinta, karena aku tak perlu memiliki ragamu untuk merasakan cinta itu, aku memeluk setiap kehilangan akan dirimu. Aku mencintaimu dengan seluruh keyakinanku, bahwa Tuhan mencintaiku, aku cukup mencintai-Nya, maka Ia berikan segala hal yang membuatku bahagia, yang membuatku merasakan sebuah cinta. Dirimu. Pergilah sesukamu, semaumu, dan aku akan selalu menjadi tempat pulang terbaikmu, ketika kamu lelah dengan perjalananmu, aku menunggumu dengan cinta-cinta ini. Seperti saat ini, menjadi tempat terbaikmu untuk kembali.

Sadarkah? Aku dan cintaku bukan yang terbaik. Aku hanya mampu mencintaimu seadanya. Memperlakukanmu sekedarnya, bahkan membahagiakanmu dengan segala keterbatasanku. Aku dan cintaku tak pernah sesempurna seperti apa yang terlihat, aku hanya mencintaimu, hanya itu. 🙂

Cintai Aku Seperti Dulu

“Tolong cintai aku seperti dulu.” – dia.
Sebelumnya air mata tak pernah terasa se-menyenangkan ini, air mata tak pernah mengalir beriringan bersama rasa se-bahagia ini. Begitu dalamnya kata menyentuh hatiku. Begitu menyentuhnya apa yang kamu lakukan, untuk membuktikan sebuah perjuangan.

Baiklah, itu adalah perasaan yang sedang aku rasakan saat ini, setelah beribu luka dan tangis perih yang menghujam, jauh sebelum ini akhirnya aku rasakan.
Aku pernah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup ini, aku sadar apa yang telah hilang, besar kemungkinannya untuk tidak kembali. Tapi aku selalu percaya skenario Allah selalu lebih baik dari rencana terbaik manapun yang pernah ada.

Aku tak pernah mencoba mengambil kembali apa yang telah diambil dari sisiku, aku tak pernah ingin merusak apapun yang membuat wanita lain bahagia, meski harus mengorbankan seluruh kisahku. Hanya saja, aku selalu percaya, setelah banyak kesulitan yang aku alami, Allah selalu memberiku banyak hal indah, yang pada akhirnya membuat aku bersyukur atas perih yang pernah aku lewati.
Pernah sekali aku mencoba berbahagia dengan yang lain, betul aku memang merasakan bahagia itu. Tapi terlalu singkat. Mungkin sama seperti kisahnya. Aku tak pernah tahu bagaimana Allah mengatur jalan kami, sesakit itu, lalu seindah ini.
Kita kembali saling menemukan, saling melengkapi setelah begitu banyak untaian hari kita lalui tanpa bersama, tanpa bersapa. Entah bagaimana cara-Nya mengembalikan apa yang telah hilang dariku. Aku hanya selalu menyelipkan namamu dalam bait-bait doaku, bukan agar kamu kembali, tapi agar kamu bahagia, sekalipun bukan aku alasannya. Aku tahu jika memang benar aku kebahagiaanmu, aku akan menjadi tempat pulangmu, seberapa jauhpun kakimu melangkah pergi. Dan Dia memenuhi janjinya, memberikan aku kesempatan untuk masih menjadi tempatmu pulang, dari lelahnya perjalananmu. Bahkan kini aku seperti menemukanmu kembali, lebih dari yang pernah aku miliki sebelumnya.

Ingin tahu rasanya menjadi wanita yang begitu diperjuangkan? Aku merasakannya. Mungkin tak akan pernah ada yang mengerti mengapa kesempatan itu masih saja aku berikan, bahkan untuk kesalahan sama, yang berulang kali kamu lakukan. Sederhana saja, karena aku selalu merasa kamu akan berubah, sebesar apapun bagian dari diriku menolak meyakini hal itu.
Sekali lagi kamu mengajarkan aku, bagaimana menjadi begitu sabar melewati kesulitan itu, membuat aku mengerti banyak hal, dengan apa yang sudah kita lalui ketika tak bersama. Terimakasih telah kembali, terimakasih telah bersedia memperjuangkan aku, meskipun dengan persembahan luka sebelumnya. Semuanya tak akan sempurna tanpa luka itu. Saat ini aku dapat tersenyum mengingat segalanya, dan sekali lagi dalam hidupku, Allah membuktikan begitu cinta-Nya padaku. Bahkan Dia mempersembahkan kamu dan keluargamu, untuk aku dan keluargaku.

Ini tak lagi sama, lebih dari apa yang pernah aku miliki sebelumnya, yang pernah aku dapatkan dari kamu sebelumnya. Hubungan ini, kisah kita. Aku kembali merasa lengkap dengan apa yang telah Allah jaga, kemudian Ia kembalikan lagi untukku.
Tolong, aku telah begitu memercayaimu saat ini. Tak banyak inginku, tak ada hal yang berani aku minta lagi dari-Nya, setelah kebahagian terbesar yang Ia berikan. Kembalilah berjalan bersamaku. Dan “Tolong cintai aku seperti dulu” katamu. Tanpa harus kamu memintanya, aku selalu mencintaimu seperti sejak saat pertama aku mencintaimu, seperti ketika belum ada luka di hatiku. Kamu tahu bagian terindah dari mencintai? Yaitu memaafkan dan menerima. Dan kamu tahu bagian terindah dari terluka? Yaitu mengikhlaskan, dan dengan seketika kebahagiaan menghampiriku. Membuat aku mampu tersenyum mengingat seluruh luka itu. Membuat aku meyakini, bahwa setiap tetes air mata adalah bayaran yang sepadan, untuk kebahagiaan terbaik yang menanti pada akhirnya nanti.

Ini kisah kita, aku dan kamu yang akan selalu saling menggenggam, seperti janji kita dulu. Yang akan tetap bertahan meski berjuta pemisah. Dan aku sudah membuktikannya, aku tetap bertahan. Ini kisah kita, tolong jangan bawakan lagi peri jahat untukku, jangan biarkan aku merasakan tangis perih itu lagi. Jangan biarkan aku tersisih lagi dalam kisahku sendiri, dan membiarkan wanita lain menjadi pemeran utamanya.
Karena yang terbaik bukan yang tak pernah melakukan kesalahan, tapi yang mampu menyadari dan memperbaiki kesalahannya. Aku masih akan terus menyelipkan ‘kita’ dalam untaian doaku. Jika akhirnya tidak indah, itu berarti bukan akhir.

Air mata ini. Aku bahagia.

Senja-ku

Senja kala itu menjadi senja pertama yang kita saksikan, dan fajar kala itu menjadi fajar pertama yang menyapa kita dalam kebersamaan. Betapapun indahnya sebuah senja, ia selalu hadir diiringi temaram, menyisakan kegelapan yang memilukan, seringkali pula tanpa ampun membawa angin bahkan hujan petaka yang pada akhirnya menorehkan sebait luka.
Namun temaram-pun akan berganti dengan cahaya fajar, meski pergantiannya tak akan pernah secepat temaram yang menyapa senja, cepat atau lambat fajar akan mengubah temaram, membawa sinar hangat sembari menyapa dalam hembus angin sisa hujan petaka, ketika temaram menyapa senja.
Entah, senja akan menemui fajar dengan indah, atau mereka akan tetap melalui perantara temaram. Satu hal yang pasti, temaram tetap indah ketika kita bersama, menengadah memandang langit ketika bulan menyapa kita dari ketinggian, kemudian beribu bintang menjadi saksi ketika angin malam menerpa wajah kita diatas ketinggian, membawa kabut yang turut menghampiri, hingga mengantarkan kita pada fajar, kilauan biru hingga jingga diawal pagi, dan kita pernah bersama melaluinya, pernah.
Cukup ‘pernah’ karena mungkin tak akan terulang kembali.

Bertahun Berarti

Untuk kalian yang tak pernah dapat mengerti, bahwa berpisah lalu tergantikan begitu menyakitkan. Berpikirlah ketika merasa begitu sakit karena posisi yang tergantikan, lalu bagaimana dengan yang sudah terganti ketika masih bersama? Ini bukan perihal siapa yang paling sakit, siapa yang paling salah atau paling benar. Bukan mengenai pengganti yang lebih baik, yang lebih sempurna atau lebih segalanya, ini hanya tentang siapa yang mampu menghargai keberadaan. Bukan berarti bertahun yang telah dilalui menjadi tidak berarti, setiap yang meninggalkan akan selalu memberi arti, setiap yang pergi pasti memberi sebuah pelajaran.

Untuk apa lagi saling menyalahkan? Ketika digantikan dengan seseorang yang lebih baik, cobalah memahami, apa yang terbaik untukmu tidak akan pernah menggatikanmu, sekalipun dengan yang lebih baik. Dan ketika memang tergantikan, percayalah Tuhan mempersiapkan seseorang yang lebih mampu menghargai sebuah keberadaan. Penerimaan yang baik membuat kita semakin kuat.

Bukan berarti bertahun yang telah dilalui menjadi tidak berarti hanya karena terganti. Hanya saja ada seseorang yang terlalu sering bertegur sapa dengan luka dan air mata, bertemankan dengan kesepian, bersama tapi diisi dengan kekosongan. Terkadang kita hanya perlu berdamai dengan hati untuk dapat menerima. Terlalu kekanak-kanakan untuk saling menyalahkan, hidup tidak serta-merta berakhir ketika dua orang terpisahkan.

Bukan menggantikan, hanya saja masih banyak yang mampu menghargai sebuah keberadaan tanpa harus dipukul dengan kehilangan.

Musim yang terluka

Seseorang pernah menanti dengan begitu tabah, berharap yang terbaik dari segala kehancuran yang terjadi, lalu apa ketabahan itu menjadi pemenang? Sayangnya tabah saja tidak cukup untuk membuat seseorang menetap pada kisah pahit. Mungkin ada yang lebih tabah, sehingga mampu membuat lebih bermakna.

Dalam waktu yang panjang ada seseorang yang terus merasakan kekosongan yang teramat pilu, bersisian tapi seperti kehilangan. Tak merindu meski lama tak bertemu. Hingga akhirnya mampu berdiri walau tanpa dilengkapi kehadiran. Hilang arti.

Tidak ada yang lebih baik dari kebersamaan dan bersama, dan tidak ada yg lebih buruk dari mengakhiri apa yang harus diakhiri. Pilihannya adalah bersama-sama mengakhiri apa yang sebaiknya berakhir, mungkin akan lebih berarti.

Kata sudah tak mampu menyelesaikan segalanya, air mata tak mampu menampung segenap kesedihan, mungkin hanya perlu berdiam untuk mengeringkan luka ini, membiarkan hening yang berucap. Memperhatikan bayang yang memudar, asa yang melemah, mimpi yang terkubur. Biar hening yang berbicara.

Pernah pada satu waktu memilih untuk bersama, tapi di lain waktu saling melepaskan genggaman. Jadi itukah pilihannya, bersama untuk melepaskan pada akhirnya? Atau memang tak ada pilihan? Kini aku biarkan waktu membantumu untuk berkemas. Pergilah, dan jangan kembali melihat ke arahku.

“Jika tulus kata tak cukup, akan kukatakan dengan jembatan air mata untuk menjemput bahagiamu.” – Moammar Emka

Akan selalu ada hal yang harus ditanggalkan dan ditinggalkan, mengapa? Karena itulah pilihan. Menjadi yang diperjuangkan atau yang ditanggalkan lalu ditinggalkan? Sepertinya aku adalah pilihan kedua. Aku pinjamkan air mataku sebagai hadiah untuk kebahagiaanmu. Tapi tolong pergilah bersama hadiahku itu, aku sudah lama menyimpannya. Pergilah, jangan terus mengajakku berjalan mundur, tahukah kamu? Dibelakang sana lukaku berserakan. Bertahun tertatih merajut setiap kepingan yang tersisa-pun, hasilnya bukan menyatu. Karena selain menerima terkadang kita juga harus melepaskan pada saat yang bersamaan.

“Benar, bersedih untuk seseorang yang pura-pura menangisi perpisahan itu seperti menggarami luka sendiri.” – Moammar Emka

Jika suatu saat nanti ada seseorang yang lebih menghargai keberadaanku, bolehkah aku mencintainya seperti aku mencintaimu dulu, memperjuangkannya seperti aku memperjuangkanmu, dan mempertahankannya seperti mempertahankanmu yang bahkan tak menghargai keberadaanku? Aku rasa tentu boleh. Bukankah itu yang Tuhan persiapkan untukku, mungkin juga untukmu?

“Karena yang setia menantimu akan belajar tentang kesabaran mencintaimu.” – Moammar Emka

Karena aku tak akan meminta mu lagi untuk :

“Kembalilah seperti dulu, saat kamu melupakan waktu, demi sapa rindu hingga pagi menjelang.” – Moammar Emka

Itu telah menjadi sebuah pinta milik orang lain padamu, dan akan menjadi pintaku untuk orang lain, tidak lagi padamu.

I Do

“ aku banyak melakukan kesalahan, tapi mencintaimu
bukan salah satunya. Aku mencintaimu, sebelumnya.
aku mencintaimu, sesudahnya.
aku mencintaimu, apapun hasilnya.

aku berpikir untuk tidak berpikir tentangmu.
maaf, aku tak mampu.
aku berpikir untuk tidak menantimu.
maaf, aku menunggu.

aku berpikir untuk tidak mencintaimu.
maaf, aku terlanjur jatuh cinta kepadamu.
aku berpikir untuk tidak terburu-buru.
maaf, aku tergopoh merindukanmu.
aku pikir, aku mencintaimu tanpa ini itu.
aku mencintaimu, benar atau salah.

babak paling menyedihkan dari percintaan bukan perpisahan, tetapi telambat sadar ada seseorang yang lain disana yang lebih layak diperjuangkan, bukan seseorang yang sekarang dalam ikatan. Seseorang yang lain, yang diam-diam setia mempertahankan cintanya meskipun separuh hati kamu sayangi.”

By : Moammar Emka

R U N

Hai… Terlalu canggung rasanya untuk sekedar memulai basa-basi ini, memulai percakapan setelah mengakhiri segala kedekatan yang pernah terjalin. Terlalu singkat juga mungkin apa yang pernah dilalui, tapi jalan Tuhan yang menuntun segalanya, menjaga agar rasa tetap indah dengan cara tak bersama, tak seirama.

Terimakasih saja mungkin tak akan pernah cukup untuk membayar detik waktu yang telah kau peruntukan bagi ku, membunuh setiap kesedihan dengan kebersamaan, menghapus tetes demi tetes air mata, bahkan perlahan mengubahnya membentuk sudut simpul dibibir, senyum. Untuk telinga terbaik yang bersedia mendengar segala kisah pahitku, meski mungkin teriris akan setiap kalimatnya, untuk mata yang menatapku dengan seluruh kepercayaan bahwa aku kuat menghadapi segalanya, untuk bibir yang bersedia tersenyum sepanjang hari demi senyumanku, untuk lengan yang terulur dan menarikku dari keterpurukan, untuk jemari yang membantuku menghapus air mata, dan untuk kaki yang membawaku turut melangkah menuju cahaya, terimakasih. Tuhan menolongku melalui perantara yang teramat sempurna, bahkan jika aku tak mampu lagi bersyukur pun, rasa syukur itu tak akan pernah cukup untuk mewakili rasa terimakasihku.

Kebersamaan tak selamanya menjadi pertanda sebuah rasa, Tuhan memilihkan jalan ini untuk kita, untuk tak saling menyakiti suatu saat nanti. Ia tahu kita mampu menghentikan segalanya saat masih terasa indah, karena Tuhan ingin menjaga rasa yang ada untuk tak berubah menjadi derita. Bahkan Ia mencukupkan kita untuk hanya menjadi teman, teman (si sempurna yang tak akan pernah menuntut jalinan menjadi lebih dari ini).

Congrats, kau berhasil merawat mutiara (yang selalu kau sebut) itu menjadi lebih indah. Mungkin tak sepenuhnya berkilauan, tak sepenuhnya bercahaya kembali, kini mutiara itu hanya berpendar seadanya, tapi kau tahu? Ia kini begitu kuat dan memesona dengan segala luka yang pernah dilaluinya. Terimakasih untuk segalanya. Yang terbaik menantimu dibatas cahaya sana, tetap berjalan dengan baik pada jalurmu, berikan seluruh pelajaran hidupmu seperti ketika kau membaginya denganku.

Terakhir dalam tulisan ini, aku akan memberitahumu satu hal mengenai mengapa aku memilih kata “RUN”.
Run yang berarti lari/berlari. Dan ketika dibalik menjadi Nur yang berarti cahaya. Lalu apa maknanya?

Kau telah mampu membuat aku yakin untuk kembali berlari dari kegelapan menuju cahaya, setelah beribu luka yang aku dapat dalam kegelapan itu.
🙂