Cintai Aku Seperti Dulu

“Tolong cintai aku seperti dulu.” – dia.
Sebelumnya air mata tak pernah terasa se-menyenangkan ini, air mata tak pernah mengalir beriringan bersama rasa se-bahagia ini. Begitu dalamnya kata menyentuh hatiku. Begitu menyentuhnya apa yang kamu lakukan, untuk membuktikan sebuah perjuangan.

Baiklah, itu adalah perasaan yang sedang aku rasakan saat ini, setelah beribu luka dan tangis perih yang menghujam, jauh sebelum ini akhirnya aku rasakan.
Aku pernah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup ini, aku sadar apa yang telah hilang, besar kemungkinannya untuk tidak kembali. Tapi aku selalu percaya skenario Allah selalu lebih baik dari rencana terbaik manapun yang pernah ada.

Aku tak pernah mencoba mengambil kembali apa yang telah diambil dari sisiku, aku tak pernah ingin merusak apapun yang membuat wanita lain bahagia, meski harus mengorbankan seluruh kisahku. Hanya saja, aku selalu percaya, setelah banyak kesulitan yang aku alami, Allah selalu memberiku banyak hal indah, yang pada akhirnya membuat aku bersyukur atas perih yang pernah aku lewati.
Pernah sekali aku mencoba berbahagia dengan yang lain, betul aku memang merasakan bahagia itu. Tapi terlalu singkat. Mungkin sama seperti kisahnya. Aku tak pernah tahu bagaimana Allah mengatur jalan kami, sesakit itu, lalu seindah ini.
Kita kembali saling menemukan, saling melengkapi setelah begitu banyak untaian hari kita lalui tanpa bersama, tanpa bersapa. Entah bagaimana cara-Nya mengembalikan apa yang telah hilang dariku. Aku hanya selalu menyelipkan namamu dalam bait-bait doaku, bukan agar kamu kembali, tapi agar kamu bahagia, sekalipun bukan aku alasannya. Aku tahu jika memang benar aku kebahagiaanmu, aku akan menjadi tempat pulangmu, seberapa jauhpun kakimu melangkah pergi. Dan Dia memenuhi janjinya, memberikan aku kesempatan untuk masih menjadi tempatmu pulang, dari lelahnya perjalananmu. Bahkan kini aku seperti menemukanmu kembali, lebih dari yang pernah aku miliki sebelumnya.

Ingin tahu rasanya menjadi wanita yang begitu diperjuangkan? Aku merasakannya. Mungkin tak akan pernah ada yang mengerti mengapa kesempatan itu masih saja aku berikan, bahkan untuk kesalahan sama, yang berulang kali kamu lakukan. Sederhana saja, karena aku selalu merasa kamu akan berubah, sebesar apapun bagian dari diriku menolak meyakini hal itu.
Sekali lagi kamu mengajarkan aku, bagaimana menjadi begitu sabar melewati kesulitan itu, membuat aku mengerti banyak hal, dengan apa yang sudah kita lalui ketika tak bersama. Terimakasih telah kembali, terimakasih telah bersedia memperjuangkan aku, meskipun dengan persembahan luka sebelumnya. Semuanya tak akan sempurna tanpa luka itu. Saat ini aku dapat tersenyum mengingat segalanya, dan sekali lagi dalam hidupku, Allah membuktikan begitu cinta-Nya padaku. Bahkan Dia mempersembahkan kamu dan keluargamu, untuk aku dan keluargaku.

Ini tak lagi sama, lebih dari apa yang pernah aku miliki sebelumnya, yang pernah aku dapatkan dari kamu sebelumnya. Hubungan ini, kisah kita. Aku kembali merasa lengkap dengan apa yang telah Allah jaga, kemudian Ia kembalikan lagi untukku.
Tolong, aku telah begitu memercayaimu saat ini. Tak banyak inginku, tak ada hal yang berani aku minta lagi dari-Nya, setelah kebahagian terbesar yang Ia berikan. Kembalilah berjalan bersamaku. Dan “Tolong cintai aku seperti dulu” katamu. Tanpa harus kamu memintanya, aku selalu mencintaimu seperti sejak saat pertama aku mencintaimu, seperti ketika belum ada luka di hatiku. Kamu tahu bagian terindah dari mencintai? Yaitu memaafkan dan menerima. Dan kamu tahu bagian terindah dari terluka? Yaitu mengikhlaskan, dan dengan seketika kebahagiaan menghampiriku. Membuat aku mampu tersenyum mengingat seluruh luka itu. Membuat aku meyakini, bahwa setiap tetes air mata adalah bayaran yang sepadan, untuk kebahagiaan terbaik yang menanti pada akhirnya nanti.

Ini kisah kita, aku dan kamu yang akan selalu saling menggenggam, seperti janji kita dulu. Yang akan tetap bertahan meski berjuta pemisah. Dan aku sudah membuktikannya, aku tetap bertahan. Ini kisah kita, tolong jangan bawakan lagi peri jahat untukku, jangan biarkan aku merasakan tangis perih itu lagi. Jangan biarkan aku tersisih lagi dalam kisahku sendiri, dan membiarkan wanita lain menjadi pemeran utamanya.
Karena yang terbaik bukan yang tak pernah melakukan kesalahan, tapi yang mampu menyadari dan memperbaiki kesalahannya. Aku masih akan terus menyelipkan ‘kita’ dalam untaian doaku. Jika akhirnya tidak indah, itu berarti bukan akhir.

Air mata ini. Aku bahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: