Senja-ku

Senja kala itu menjadi senja pertama yang kita saksikan, dan fajar kala itu menjadi fajar pertama yang menyapa kita dalam kebersamaan. Betapapun indahnya sebuah senja, ia selalu hadir diiringi temaram, menyisakan kegelapan yang memilukan, seringkali pula tanpa ampun membawa angin bahkan hujan petaka yang pada akhirnya menorehkan sebait luka.
Namun temaram-pun akan berganti dengan cahaya fajar, meski pergantiannya tak akan pernah secepat temaram yang menyapa senja, cepat atau lambat fajar akan mengubah temaram, membawa sinar hangat sembari menyapa dalam hembus angin sisa hujan petaka, ketika temaram menyapa senja.
Entah, senja akan menemui fajar dengan indah, atau mereka akan tetap melalui perantara temaram. Satu hal yang pasti, temaram tetap indah ketika kita bersama, menengadah memandang langit ketika bulan menyapa kita dari ketinggian, kemudian beribu bintang menjadi saksi ketika angin malam menerpa wajah kita diatas ketinggian, membawa kabut yang turut menghampiri, hingga mengantarkan kita pada fajar, kilauan biru hingga jingga diawal pagi, dan kita pernah bersama melaluinya, pernah.
Cukup ‘pernah’ karena mungkin tak akan terulang kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: