Musim yang terluka

Seseorang pernah menanti dengan begitu tabah, berharap yang terbaik dari segala kehancuran yang terjadi, lalu apa ketabahan itu menjadi pemenang? Sayangnya tabah saja tidak cukup untuk membuat seseorang menetap pada kisah pahit. Mungkin ada yang lebih tabah, sehingga mampu membuat lebih bermakna.

Dalam waktu yang panjang ada seseorang yang terus merasakan kekosongan yang teramat pilu, bersisian tapi seperti kehilangan. Tak merindu meski lama tak bertemu. Hingga akhirnya mampu berdiri walau tanpa dilengkapi kehadiran. Hilang arti.

Tidak ada yang lebih baik dari kebersamaan dan bersama, dan tidak ada yg lebih buruk dari mengakhiri apa yang harus diakhiri. Pilihannya adalah bersama-sama mengakhiri apa yang sebaiknya berakhir, mungkin akan lebih berarti.

Kata sudah tak mampu menyelesaikan segalanya, air mata tak mampu menampung segenap kesedihan, mungkin hanya perlu berdiam untuk mengeringkan luka ini, membiarkan hening yang berucap. Memperhatikan bayang yang memudar, asa yang melemah, mimpi yang terkubur. Biar hening yang berbicara.

Pernah pada satu waktu memilih untuk bersama, tapi di lain waktu saling melepaskan genggaman. Jadi itukah pilihannya, bersama untuk melepaskan pada akhirnya? Atau memang tak ada pilihan? Kini aku biarkan waktu membantumu untuk berkemas. Pergilah, dan jangan kembali melihat ke arahku.

“Jika tulus kata tak cukup, akan kukatakan dengan jembatan air mata untuk menjemput bahagiamu.” – Moammar Emka

Akan selalu ada hal yang harus ditanggalkan dan ditinggalkan, mengapa? Karena itulah pilihan. Menjadi yang diperjuangkan atau yang ditanggalkan lalu ditinggalkan? Sepertinya aku adalah pilihan kedua. Aku pinjamkan air mataku sebagai hadiah untuk kebahagiaanmu. Tapi tolong pergilah bersama hadiahku itu, aku sudah lama menyimpannya. Pergilah, jangan terus mengajakku berjalan mundur, tahukah kamu? Dibelakang sana lukaku berserakan. Bertahun tertatih merajut setiap kepingan yang tersisa-pun, hasilnya bukan menyatu. Karena selain menerima terkadang kita juga harus melepaskan pada saat yang bersamaan.

“Benar, bersedih untuk seseorang yang pura-pura menangisi perpisahan itu seperti menggarami luka sendiri.” – Moammar Emka

Jika suatu saat nanti ada seseorang yang lebih menghargai keberadaanku, bolehkah aku mencintainya seperti aku mencintaimu dulu, memperjuangkannya seperti aku memperjuangkanmu, dan mempertahankannya seperti mempertahankanmu yang bahkan tak menghargai keberadaanku? Aku rasa tentu boleh. Bukankah itu yang Tuhan persiapkan untukku, mungkin juga untukmu?

“Karena yang setia menantimu akan belajar tentang kesabaran mencintaimu.” – Moammar Emka

Karena aku tak akan meminta mu lagi untuk :

“Kembalilah seperti dulu, saat kamu melupakan waktu, demi sapa rindu hingga pagi menjelang.” – Moammar Emka

Itu telah menjadi sebuah pinta milik orang lain padamu, dan akan menjadi pintaku untuk orang lain, tidak lagi padamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: