Sunset Bersama Rosie – Tere Liye

Novel yang luar biasa! 🙂

Rasa sayang seringkali disertai rasa ingin memiliki, ketika sudah memiliki pun hati manusia masih selalu meminta lebih –ingin hanya menjadi milik sendiri– dari yang pantas dikatakan wajar. Bahkan tak sedikitpun merasa sungkan pada Tuhan Sang Pemilik sesungguhnya. Mengapa harus selalu merasa ingin memiliki ketika bahkan pada saat yang sama yang kita inginkan adalah milik Tuhan. Dan pada saat itu pula hatinya memilih orang lain.

Tak pernah ada yang nyata ketika bersama adalah memiliki. Ketika mencintai harus bersama. Kemudian dengan bersama harus saling membahagiakan. Bahkan pada kenyataannya yang bersama pun tak merasa memiliki, yang bersama kadang tak selalu saling mencintai –yang satu mencintai, yang lainnya seadanya aja– kemudian dengan sangat menyakitkan ketika menyadari saat bersama tak saling membahagiakan atau tak merasa bahagia, bahkan akal sehat dengan ragu berpikir tak dapat memberi kebahagiaan.

Iya, semestinya menyadari hal senyata itu dapat dengan mudah dilakukan. Untuk apa ketika kita bersama justru hati enggan untuk sepenuhnya bahagia, akal juga tak seluruhnya mau meyakini keputusan untuk bersama, lalu akan sedemikian sulit apa lagi membelenggu hidup untuk terus menyesali ketakutan akan masa lalu atas keputusan yang telah dipilih? Bukankah itu sudah jauh tertinggal dibelakang sana, ya sangat jauh. Masa lalu dan segala hal yang tertinggal didalamnya memang tak akan mungkin dilupakan, tapi itu bukan suatu alasan untuk terus hidup didalamnya. Masa lalu memang tidak akan hilang, tapi bukankah memory pun akan hilang bersama kematian pembawanya.

Mencintai dan tak harus memiliki itu sebuah pengorbanan. Coba saja membesarkan hati dengan memikirkan bahwa kita dan yang kita inginkan adalah sama-sama milik Tuhan, jadi mengapa memaksa harus saling memiliki.

Mengenai pengorbanan, apakah memiliki harga juga batasan? Sedangkan jika harus dengan keinginan keras untuk terus memiliki bukankah itu sebuah harga yang harus dibayar untuk sebuah pengorbanan, dan batasnya adalah ketika berhenti memiliki. Maka pengorbanan tentu memiliki harga dan batasan bagi si egois yang menyimpan ‘memiliki’ pada peringkat satu dalam definisinya mengenai cinta. Lalu bagaimana dengan yang tak pernah memiliki, dan yang saling memliki namun tanpa cinta? Terkadang hal semudah tersandaung lalu terjatuh, kemudian berusaha bangun pun, menjadi serumit harus menggenggam dunia bagi si egois yang selalu berkutat dengan harga dan batasan itu sendiri. Karena berdamai dengan hati adalah hal termudah untuk menyederhanakan segala kerumitan duniawi ini. Cintai saja! Karena perihal memiliki atau tidak itu sungguh urusan Tuhan. Dan syukurilah ketika memiliki walaupun tanpa cinta, karena dengan bersyukur kita juga menyadari boleh jadi ketika yang dimiliki pergi kita akan kehilangan dan penuh dengan penyesalan untuk karena pernah tak menghargai kebersamaan yang pernah direngkuh bersama. Dan itu cinta, hanya keegoisan dan kenaifan yang ketika bersama membuat sombong dan melupakan bahwa sesungguhnya itu memang cinta.

Kita tak akan pernah tahu, apakah akan hadir kesempatan untuk mengulangi hal yang sama, meski dengan janji yang lebih baik dari sebelumnya sekalipun. Karena keputusan yang dipilih tak membawa kita pada kesempatan yang lebih indah, justru membuka kesempatan kita untuk terluka dan tak pernah lagi dapat merasakan ketulusan sebelumnya.

Pertanyaan tentang perasaan memang tak akan pernah terjawab, tak akan ada yang mampu menjawabnya, hanya Tuhan yang akan memerintahkan waktu untuk memperlihatkannya.

Mencintai bukan berarti harus memiliki –terdengar seperti omong kosong–, dan ketika memiliki pun tak selalu dapat mencintai selamanya. Hanya pelaku yang tulus yang akan memilih keputusan yang dapat membawanya pada kesempatan terbaik milik hidupnya.

sbr

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: